Sarjana Pendidikan Fisika Dengan IPK 3,49 Jualan Jamu Keliling Karena Sulit Cari Kerja

views 3 Kali dilihat
Sarjana Pendidikan Fisika Dengan IPK 3,49 Jualan Jamu Keliling Karena Sulit Cari Kerjaby Situsku.Bizon.Sarjana Pendidikan Fisika Dengan IPK 3,49 Jualan Jamu Keliling Karena Sulit Cari KerjaSutriyanti, sarjana Fisika yang jualan jamu keliling (foto: Tribun Jogja/Anas Apriyadi via Kompas.com) Di zaman yang serba canggih ini, mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah bahkan untuk seorang berprestasi pun. Sebut saja Sutriyanti, sarjana Pendidikan Fisika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta dengan IPK 3,49 yang saat ini harus menyambung hidup dengan berjualan jamu keliling. Setelah […]

Sutriyanti, sarjana Fisika yang jualan jamu keliling (foto: Tribun Jogja/Anas Apriyadi via Kompas.com)

Di zaman yang serba canggih ini, mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah bahkan untuk seorang berprestasi pun. Sebut saja Sutriyanti, sarjana Pendidikan Fisika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta dengan IPK 3,49 yang saat ini harus menyambung hidup dengan berjualan jamu keliling.

Setelah diwisuda pada bulan Desember 2014 lalu, inginnya Sutriyanti mendapat pekerjaan yang layak. Namun apa boleh buat, sulitnya mencari pekerjaan membuat anak terakhir dari dua bersaudara ini harus berjualan jamu keliling membantu sang ibu.

“Setelah lulus, saya sih inginnya bekerja jadi guru atau di perusahaan,” ujar Sutriyanti kepada Kompas.com, saat ditemui di kediamannya, di Dusun Samen RT 01, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Jumat (10/4/2015).

Sutriyanti sempat mengikuti beberapa panggilan untuk mengikuti interview kerja. Namun sayang, ia selalu gagal meski nilai tesnya paling tinggi dibandingkan dengan pelamar-pelamar lainnya.

Padahal, Sutriyanti adalah gadis berprestasi semasa kuliahnya. Dia sanggup menyelesaikan gelarnya sebagai sarjana dalam waktu 3,5 tahun dan mendapat IPK 3,49. Meskipun demikian, nilai tinggi yang diraih Sutriyanti belum menjaminnya untuk mendapat pekerjaan yang layak.

“Hidup itu proses, tidak bisa instan. Segala yang pahit ketika dijalani dengan ikhlas maka akan berbuah manis,” kata gadis berusia 23 tahun itu.

sumber: Kompas.com

Related Posts